Sebelum melanjutkan kembali seri tulisan mengenai perancangan antena vertikal 80 m band, saya ingin terlebih dahulu berbagi pengalaman mengiktui kontes CQ WPX CW 2017. Alasan saya untuk membagikan pengalaman ini bukanlah karena saya telah mahir Morse/CW, melainkan karena tanpa saya duga, walaupun kondisi propagasi yang tidak begitu baik, saya berhasil mendapatkan raw score yang cukup baik untuk seorang YD/YG (raw score : 888.822, kandidat #1 World !).

raw_score_cq_wpx

Keikutsertaan kontes ini adalah bagian dari rangkaian program Elmer–Rookie Competition yang digelar oleh YBDXC dimana saya dan OM Hans (YB2DX, Elmer) ikut serta. Kali ini saya mengikuti kategori Single Operator Low Power 15M Assisted dan memancar dari Club Station ORARI Lokal Grobogan (YB2ZDX) yang bertempat di QTH OM Hans (YB2DX). Pada kategori ini, setiap peserta diwajibkan untuk melakukan QSO pada band 15M dengan daya pancar maksimum 100 Watt, diperbolehkan menggunakan DX Cluster, dan menggunakan maksimum 36 jam dari total slot 48 jam yang tersedia.

Persiapan
Saya sebenarnya telah mempersiapkan diri untuk mengikuti kontes ini sejak waktu yang cukup lama.

  • QSO CW pertama dengan stasiun DX pada 28 Maret 2015 di band 10 m (belum genap 5 bulan sejak saya menerima IAR). Saya ingat pada waktu itu propagasi di 10 m band masih baik, hanya dengan antena wire inverted V ketinggian feed point 4 meter dari permukaan tanah (!), dan dengan dua – tiga kali panggilan CQ, saya langsung menghasilkan pile-up. Dapat dibayangkan dengan kemampuan saya waktu itu yang masih dibawah 15 WPM (modal nekad), saya kesulitan menerima callsign lawan. Akhirnya setelah 10 menit, didapatlah 2 QSO saja (UR8LAK dan RG0A). Sejak saat itu saya memutuskan untuk berlatih morse secara mandiri (kira – kira selama 1 tahun).
  • Berlatih Morse/CW pada Maret 2016 dengan partner OM Edy (YC8HU) di frekuensi 7120 kHz selama kurang lebih 2 minggu saja.
  • Mencoba ikut serta kontes CQ WPX CW 2016 pada kategori Single Operator Low Power All Band (hanya memancar di 15 m dan 10 m) dengan hasil 150 QSO. Pada kontes ini pengalaman menarik yang saya ambil adalah ; saya memulai kontes dengan kecepatan 17 WPM dan selama kontes secara perlahan – lahan kecepatan tersebut saya naikkan (atur kecepatan pada N1MM). Tanpa terasa, pada akhir periode kontes, saya telah menggunakan kecepatan 25 WPM. Saya juga mengamati bahwa kontester dari JA mayoritas menggunakan medium speed (berkisar 25 WPM) dan kontester EU menggunakan high speed (berkisar 35 WPM). Pada kontes ini pula, ketika saya melakukan panggilan CQ, masuk stasiun DX dari negara yang pada waktu itu belum pernah saya dapatkan (Cyprus P33W dan Morroco CN2AA, keduanya CFM via LoTW). Sejak saat itu lah, secara perlahan saya mulai menggeser moda favorit saya dari Digimode ke arah CW.
  • Pada periode Mei 2016 hingga Oktober 2016 dan Desember 2016, saya teratur melakukan DX-ing pada band 15 m dan 40 m menggunakan moda CW.
  • Mengikuti Oceania DX Contest CW 2016 pada kategori SOLP 40 m (Elmer : YB2DX) dengan hasil yaitu New Oceania Record.
  • Ikut serta sebagai tim YE2A dalam CQ WW DX CW 2016.
  • Selain berlatih QSO dengan moda CW, saya juga secara perlahan – lahan belajar mengenai pola propagasi pada tiap band. Saya banyak belajar mengenai hal ini kepada elmer saya, OM Hans (YB2DX). Saya mencermati cerita pengalaman DXing beliau mengenai jam – jam pembukaan propagasi ke region tertentu. Pelajaran mengenai propagasi ini saya konfirmasi saat ikut sebagai tim YE2A pada CQ WW DX CW dan SSB 2016.
  • Pada Februari 2017, seminggu sebelum mengikuti CQ WPX RTTY, saya membuat tabel jadwal pembukaan propagasi ke tiap region dengan bantuan software VOAProp dan solar data yang telah di-update. Tabel ini saya ubah menjadi jadwal rencana arah beaming antena pada tiap jam. Sehari sebelum kontes, saya konsultasikan jadwal yang saya buat kepada elmer untuk merencanakan jadwal kapan harus “Gas Pol Rem Blong”, kapan harus rajin hunting, dan kapan harus OFF (tidur). Saat kontes, saya ikuti sepenuhnya jadwal yang telah saya buat sambil mengamati jam – jam pembukaan propagai yang belum tercatat. Saat kontes CQ WPX RTTY, saya sedikit melakukan revisi jadwal tersebut dan berhasil meraih raw score sebesar 662.840.

voaprop

  • Sebelum CQ WPX CW 2017 saya kembali melakukan review jadwal propagasi menggunakan VOAProp. Oleh karena tidak terdapat perbedaan prediksi yang signifikan, saya tetap menggunakan jadwal yang saya buat pada bulan Februari 2017 tanpa perubahan yang berarti. Berikut adalah contoh tabel/jadwal pembukaan propagasi yang telah disusun :

screenshot-from-2017-06-07-03-46-31.png

Screenshot from 2017-06-07 03-47-28

Persiapan H-1
Khusus untuk CQ WPX CW 2017, dapat dikatakan saya kurang mempersiapkan diri dengan baik. Karena aktivitas di kampus, saya sudah tidak pernah DX-ing dengan moda CW sejak bulan Januari 2017. Jadwal propagasi pun baru saya review saat dua hari sebelum kontes. Karena untuk keperluan penelitian yang saya lakukan, saya menginstall laptop dengan sistem operasi Linux Ubuntu dan tidak dapat di-instal N1MM, akhirnya dua minggu sebelum kontes saya install N1MM dengan Windows 7 Virtual Machine under Linux. Pada saat itu saya bahkan tidak yakin apakah N1MM under Linux yang saya gunakan dapat bekerja baik (terutama untuk fitur CI-V dan CW keying). Tentu saja, software TQSL untuk upload log ke LoTW pun belum ter-install !
Pada pagi hari jumat 28 Mei 2017, saya masih membereskan keperluan di kampus hingga pukul 09.00 WIB. Saya kemudian pulang ke kost, berkemas, makan, dan tepat pukul 09.30 WIB saya berangkat dari Yogyakarta ke Grobogan dengan mengendarai sepeda motor. Saya pun tiba di Grobogan sekitar pukul 13.30 WIB.
Pada pukul 0850 UTC saya selesai membereskan instalasi laptop dengan koneksi ke radio. Saya kembali diperbolehkan menggunakan setup stasiun yang saya pergunakan saat CQ WPX RTTY 2017, terdiri dari Icom IC-7300, antena Yagi 6 elemen, dan kendali rotator Yaesu di pendopo. Foto berikut adalah meja operator saat saya melakukan kontes CQ WPX RTTY 2017 (dipergunakan kembali pada CQ WPX CW).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya mendengarkan sebentar kondisi band 15 m, sepi, hanya terdengar E31A dan kerumunan pile-up JA. Kemudian saya segera arahkan antena ke 330 derajat dan melakukan panggilan CQ DX dengan kecepatan 30 WPM untuk melakukan pemanasan. QSO pertama terjadi pada 0852 UTC dan terjaring 5 QSO dari UR6, IZ3, EV1, DL2, dan RA6. Saya tidak menduga bahwa kelima stasiun dari EU ini terdengar dengan sinyal yang cukup lemah. Karena saya menduga propagasi tidak begitu baik ke arah EU, pada 0856 UTC saya putar antena ke arah JA dan benar saja, sinyal dari JA terdengar begitu kuat (sama seperti saat CQ WPX RTTY) dan hanya dalam beberapa menit, saya membangkitkan pile-up. Selanjutnya saya melayani pile-up JA dengan Split Up hingga terjaring kurang lebih 100 QSO. Pemanasan ini kemudian berakhir karena terjadi pemadaman listrik, hehehe.

Berikut adalah layout N1MM yang digunakan oleh YD1SDL/2 :

N1MM

Kontes Hari ke-1
Jam 2300 UTC saya telah bangun, mandi, dan bersiap di depan radio. Pengaturan N1MM saya periksa ulang. Pengaturan macros, koneksi telnet, dan logsheet sekali lagi saya periksa. Tepat pukul 0000 UTC, saya memulai CQ TEST dengan kecepatan 30 WPM dan antena mengarah antara 30 hingga 60 derajat. Terjaring banyak stasiun JA dan USA, namun sama sekali belum terdengar KH6, YV, dan PY. Dengan menggunakan VFO A/B, saya pindah dengan cepat antara frekuensi CQ dan hunting. Saat laju QSO menurun, saya pindah dari VFO A (CQ) ke VFO B (hunting) untuk memburu multiplier dari kawasan South America. Tidak satupun terdengar stasiun dari kawasan tersebut, aneh ! Akhirnya saya kembali pindah ke VFO A untuk CQ dan berlanjut menjaring banyak stasiun dari kawasan JA, USA, dan Asia. Sejak 0200 UTC saya mulai memburu T2R (Tuvalu), A31MM (Tonga), dan E51DWC (South Cook Is.), namun sayang sekali ketiganya tidak terdengar.
Pukul 0300 UTC laju QSO telah menurun dan saya mulai memburu VK dan ZL, multiplier yang hingga saat itu belum saya dapatkan. Saya arahkan antena ke 120 derajat dan melakukan CQ. Setelah cukup lama melakukan CQ dan hanya terjaring 2 stasiun dari VK dan ZL, saya kembali arahkan antena ke 30 derajat. Pada arah ini, saya kembali menjaring JA dan USA. Asiatic Rusia dan India satu per satu mulai masuk dalam log.

Hingga pukul 0500 UTC, saya tetap memburu JA, USA, kawasan Asia, dan Oceania. Tidak lama kemudian, saya terkejut karena saat melakukan CQ ke arah 30 derajat, masuklah II9P dengan sinyal yang lumayan. Sambil memberikan pertukaran QSO, dengan cepat saya putar antena ke arah EU dan berhasil menyelesaikan QSO dengan II9P (saat antena mengarah ke EU, II9P diterima di Grobogan dengan kuat sinyal S9++). Sejak saat itu saya secara perlahan mulai memburu multiplier dari EU dan tetap melakukan CQ ke arah Asiatic Rusia dan JA.

Sekitar pukul 0600 UTC, saya mulai merasa lelah dan sering kali kehilangan konsentrasi dan meminta AGN, sehingga saya menurunkan kecepatan menjadi 27 WPM. Seperti biasanya, mayoritas kontester dari JA menggunakan medium speed sekitar 25 WPM, sehingga saya tetap memburu stasiun JA karena lebih mudah didengarkan. Pukul 0700 UTC saya memutuskan mulai beaming ke EU untuk memburu multiplier. Saat itu pula saya menyadari kesalahan fatal yaitu tidak beristirahat pada pukul 06 UTC. Sesaat saya melakukan panggilan CQ, banyak stasiun EU menjawab panggilan saya dan bahkan secara berangsur-angsur 5 hingga 8 stasiun sekaligus menjawab panggilan. Karena rerata stasiun EU menggunakan kecepatan sekitar 35 WPM, saya dengan cepat menjadi cukup lelah dan sering melakukan kesalahan. Akhirnya sekitar pukul 08 UTC, setelah QSO rate menurun, saya beristirahat dan mem-backup logsheet.
Saat kembali melakukan panggilan CQ, stasiun dari EU terdengar lebih lemah dari sebelumnya. Antena tetap saya arahkan ke 340 derajat dengan pertimbangan prioritas ke EU (karena sinyal mulai melemah) namun masih dapat menjaring JA. Karena sinyal dari EU semakin melemah, saya geser arah antena ke 320 derajat dan terus memburu EU untuk menambah QSO dan multiplier. Sesekali saya putar antena ke arah 20 derajat untuk memburu JA dan Asiatic Rusia. Lewat pukul 13 UTC terjaring OL4A sebagai stasiun EU terakhir pada hari ke-1 dengan sinyal yang cukup lemah. Propagasi pada kali ini tidak sebaik saat CQ WPX RTTY 2017 di mana saya masih dapat menjaring QSO dengan EU hingga kira – kira pukul 15 UTC.
Pukul 14 UTC saya mulai memburu multiplier dari North America dan kawasan Carribean pada arah 30 hingga 60 derajat. Terjaringlah XE2, P4, WP3, dan sedikit stasiun USA. Stasiun terakhir yang masuk log adalah NR3X sekitar pukul 1430 UTC. Selanjutnya saya mem-backup logsheet dan beristirahat.

Kontes Hari ke-2
Menurut evaluasi kondisi hari ke-1, saya memprioritaskan memburu multiplier EU pada hari ini begitu terdapat propagasi. EU sebagai “sarang” multiplier belum terjaring secara maksimal pada hari pertama. JA yang juga sebagai sarang multiplier telah terjaring dengan cukup maksimal pada hari pertama dengan ditandai berkurangnya laju pendapatan multiplier terhadap QSO dari JA.
Hari-2 saya mulai dengan panggilan CQ ke arah 60 derajat. Ini adalah kesempatan terakhir saya untuk menjaring multiplier dari USA. Cukup banyak terjaring stasiun dari USA serta beberapa dari Canada dan Alaska. Beberapa kali, saat menerima stasiun USA yang merupakan new multiplier, masuklah juga stasiun JA (bukan multiplier) dengan kuat sinyal yang jauh lebih besar dengan tone yang nyaris sama persis sehingga mengganggu konsentrasi. Saat itu saya harus melakukan “selective calling”. Hingga kira–kira pukul 04 UTC, saya terus berpindah – pindah antara VFO A (CQ) dan VFO B (hunting) untuk memburu kesempatan terakhir menjaring multiplier dari NA dan SA. Namun tanpa diduga, terdapat beberapa stasiun USA masuk panggilan CQ saya hingga sekitar pukul 05 UTC.
Menjelang siang hari, saya mulai menghabisi satu per satu multiplier yang terdengar dari 21.000 kHz hingga 21.060 kHz pada berbagai arah beaming antena. Cukup lumayan, pada pukul 04 UTC di hari ke-2 saya telah menjaring 600+ QSO (termasuk dupe). Proses menjaring QSO pada hari ke-2 terasa lebih berat dibanding hari pertama. Proses menambah jumlah QSO dari 600 ke 650 cukup berat dan memakan waktu berjam-jam. Begitu pula dari 650 ke 700 dan seterusnya. Di sela-sela laju QSO yang rendah, saya hunting stasiun manapun yang terdengar baik multiplier maupun bukan multiplier. Saat itu saya berusaha agar daftar dx spot pada jendela “bandmap” berwarna abu-abu seluruhnya. Saya terus melakukan CQ dan hunting secara bergantian sambil menunggu pembukaan propagasi ke EU.

Pukul 08 UTC saya mulai menetapkan arah antena ke 320 derajat untuk “menghadang” stasiun EU. Namun sayang sekali, bukaan propagasi ke EU pada hari ke-2 hampir tidak terjadi. Pada hari ke-2 saya hanya mendapat 4 stasiun dari sekitar kawasan EU yaitu II9P (dupe), UP2L (dupe), 4X7R (new multiplier), dan Z35T (new multiplier). II9P dan UP2L telah saya dapatkan di hari-1 namun saya melakukan dupe untuk “mengamankan” QSO yang sebelumnya (pada CQ WPX, dupe bernilai 0 point namun tidak mendapatkan pinalti score). Antara pukul 09 hingga 10 UTC, saya memburu multiplier dari Africa dan berhasil mendapatkan ZS4 dan ET3. Oleh karena tidak terjadi bukaan propagasi ke EU, saya mengalihkan antena ke arah JA serta melakukan CQ dan hunting.
Menjelang pukul 11 UTC, sinyal dari JA mulai melemah. Saat itu saya kembali hunting stasiun manapun yang terdengar untuk mengamankan jumlah QSO 700+. Pada pukul 1152 UTC, terjaring DU1NA sebagai stasiun terakhir pada petang hari ke-2. Selanjutnya sejak 12 UTC, kondisi propagasi di 15 m band semakin memburuk. Bahkan tidak satupun terdengar stasiun pada band tersebut. Saya arahkan antena ke 320 derajat untuk mencoba CQ ke EU namun tidak satupun stasiun menjawab panggilan dan background noise terbaca hingga S3 (petang hari ke-1 noise terbaca S0). Karena merasa kondisi yang cukup aneh ini, saya membuka web browser dan menuju www.dxsummit.fi untuk melihat parameter propagasi. Tanpa disangka, A-index ternyata mencapai 54 ! (sayang sekali saya lupa melakukan screenshot parameter ini)
Pagi keesokan harinya saya mulai standby di depan radio sejak pukul 2250 UTC untuk menghabisi stasiun JA dan Asia. Dengan sisa waktu yang sempit ini, saya terus secara bergantian melakukan hunting sapu bersih dari 21.000 kHz hingga 21.050 kHz dan CQing. Hingga akhir periode kontes, telah terjaring 790 QSO (758 unik dan 32 dupe), 402 WPX, dan raw score sebesar 888.822 dengan stasiun terakhir yang masuk log adalah JH1BCS.

score

Evaluasi Diri dan Kesimpulan

  • Endurance saya dalam menerima kode morse masih belum begitu baik. Saya memperkirakan paling tidak 30% dari QSO yang saya lakukan, saya mengirimkan “?” atau “AGN” untuk meminta lawan QSO mengirimkan ulang callsign ataupun pertukaran QSO. Hal ini terjadi karena konsentrasi saya yang mulai menurun. Karena endurance yang belum begitu baik, saya memperkirakan telah melewatkan paling tidak puluhan atau mungkin ratusan QSO yang potensial.
  • Sangat disayangkan pada hari ke-1 saya melewatkan banyak waktu untuk menjaring stasiun EU antara pukul 08 hingga 09 UTC. Hal ini disebabkan karena keputusan untuk menunda istirahat pada jam sebelumnya sehingga membuat konsentrasi menurun.
  • Kondisi propagasi 15 m band yang kurang bersahabat di hari ke-2 membuat saya kehilangan banyak QSO dengan EU. Walaupun hal ini adalah kondisi alam yang tidak dapat dilawan, setidaknya saya melewatkan 100 QSO dan kemungkinan puluhan multiplier. Hal ini dapat menjadi pelajaran dan membutuhkan perencanaan/strategi yang lebih baik di masa yang akan datang.
  • Dari sisi lain, saya yang masih menyandang prefix YD dan memegang IAR kurang dari 3 tahun sangat bersyukur dapat melakukan 790 QSO dalam satu kontes. Tentu saja hal ini tidak lepas dari bimbingan elmer saya, YB2DX.
  • Karena saya tidak perlu mengkhawatirkan kelengkapan stasiun kontes, saya bertanggung jawab atas kemampuan diri serta kesiapan fisik dan mental untuk menjalani kontes, termasuk pengetahuan dasar mengenai waktu bukaan propagasi.
  • Antena yagi 15 m band 6 elemen made in Grobogan dahsyat, bro !!
  • Berikut adalah statistik QSO rate saya dalam kontes ini :

Stat

 

73,

de YD1SDL, YBDXC #193

dikutip dari labsdl.worpress.com